Senin, 07 Desember 2015

doc.matas.520.KAJIAN KITAB IBANATUL AHKAM SYARAH BULUGHUL MAROM,KARYA SYEH ALAWI ABBAS AL MALIKI bagian ke 9





Abu Haidar
8 September pukul 22:49

KAJIAN KITAB IBANATUL AHKAM SYARAH BULUGHUL MAROM,KARYA SYEH ALAWI ABBAS AL MALIKI
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
BismillahirrohmanirrohimBagian ke 9 :

عن ابي قتاده رضي الله عنه قال : فى الهرة ( انها ليست بنجس انما هي من الطوافين عليكم ) اخرجه الاربعة وصححه الترميذى وابن خزيمه

Diriwayatkan dari Abi Qotadah ra,dalam masalah kucing. Sesungguhnya kucing itu tidak najisKucing termasuk hewan yang mengililingi kalian semua.
Pengertian Hadist :
1. Anjuran bertanya bagi orang yang tidak faham sesuatu Kepada yang lebih tahu.
2. Sayang pada hewan.
3. Sucinya kucing & sisa makanannya.
4. Mulut kucing ketika ada najis pada mulutnya,maka dihukumi najis,Dan dihukumi suci apabila sudah menjauh/selang beberapa saat kemudian.

Semuga bermanfaat,,,,,,aimn.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

untuk lebih jelasnya silahkan klik link berikut:https://www.facebook.com/groups/297908517036791/permalink/530796603747980/

doc.matas.519.KAJIAN KITAB UQUDU LUJJAIN BAGIAN ke 28(Wanita lebih utama shalat dirumah )






Lutfi Jaya
14 September pukul 13:16

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
KAJIAN KITAB UQUDU LUJJAIN BAGIAN ke 28
بسم الله الرحمن الرحيم

الفصل الثالث فى فضل صلاة المرأة فى بيتها وانه أفضل من صلاتها فى المسجد مع النبى صلى الله عليه وسلمروى عن امرأة حميد الساعدى أنها جاءت الى النبى صلى الله عليه وسلم فقالت يا رسول الله انى احب الصلاة معك فقال صلى الله عليه وسلم علمت انك تحبين الصلاة معى وصلاتك فى بيتك خير من صلاتك فى حجرتك وصلاتك فى حجرتك خير من صلاتك فى دارك وصلاتك فى دارك خير من صلاتك فى مسجدى

PASAL 3

KEUTAMAAN SHALATNYA WANITA DIRUMAHNYA SENDIRI

Dalam bagian ini akan membicarakan tentangg keutamaan shalatnya orang perempuan (istri) di rumahnya sendiri dan shalatnya itu lebih utama di banding shalat orang perempuan di masjid, sekalipun berjamaah dengan Rasulullah. Humaid As Sa’idi meriwayatkan tentang seorang perempuan yang datang kepada Rasulullah perempuan itu bertanya:”Hai Rasulullah, sesungguhny aku sangat senang jika shalat berjamaah denganmu”. Nabi menjawab:”Aku tau kamu senang shalat berjamaah denganku. Tetapi shalatmu di rumahmu sendiri lebih utama dari pada shalatmmu di kamarmu dan shalatmu di kamarmu lebih utama di banding shalatmu diserambi rumahmu dan shalatmu di serambi rumahmu lebih utama di banding shalatmu di masjidku ini”. Yang demikian itu tidak lain untuk menjaga agar ketertutupan dirinya sebagai hak yang perlu di jaga. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya shalatnya orang perempuan di rumahnya lebih baik dari pada shalat di kamarnya, dan sesungguhnyalah shalatnya seorangperempuan di kamarnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi rumahnya, dan shalatnya seorang perempuan di serambi rumahnya itu lebih baik dari pada shalatnya di masjid”. (al hadits riwayat Al baihaqi dari Aisyah Ra)

Demikian semoga bermanfaat amin Allahumma amin
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu.

untuk lebih jelasnya silahkan klik link berikut : https://www.facebook.com/groups/297908517036791/permalink/533529610141346/

doc.matas.518.KAJIAN NASHAIHUL IBAD BAGIAN18(KEBAIKAN AKAN MENYUBURKAN KEHIDUPAN)




Fathul Bari SH
13 September pukul 16:42
 
بسم الله الرحمن الراحيم
اصبحنا الله في كل سرور وسعادة
السلامعليكم ورحمة الله وبركاته
الم قالة الثامنة عشرة
 
Ada ulama yg mrenerangkan bahwa : barangsiapa yg meninggalkan perbuatan berdosa maka hatinya mudah mencerna atau menetima kebaikan. Maka dia mudah menerima nasihat. KARENA NASIHAT ITH SANGAT DIBUTUHKAN BAGI SUBURNYA HATI. BAGAI YANAMAN YG SELALU DISIRAMI MAKA TANAMAN TERSEBUT AKAN SUBUR BERKEMBANG . BEGITU JUGA HAYI JIKA SUDAH SERING MENERIMA NASIHAT MAKA HATI TERSEBUT SUBUR DALAM KEBAIKAN.
 
 barang siapa meninggalkan sesuatu yg harom . Baik itu makanan atau pakaian . Atau yg lainnya. Serta selalu memakan sesuatu yg halal serta dg cata baik. Maka fikuranbya jernih . Maka dia selalu tadzabbur atau berfikir dan nensyukuri segala apa yg ALLOH SUBHANAHU WATÀALÀ CIPTAKAN setta dia akan menyadatu serta sangat meyaqini aka adanya hati kebangkitan setelah dialam kubur serta segala otoses sampai besok hati kiamat. Yg semuanya iyu adalah menandakan kebesaran kekuasaan ALLIH S.W.T. memikirkan bahwa ALLOH S..W.T menciptakannya dr air mani dalam rahim sang ibu sampai dilahirkan dan seterusnya begitu juga dg cara menangis menyusu makan dan seterusnya . Itu semua afalah atas bimbingan dan arahan ALLOH S.W.T serta ALLOH S.W.T menciptakan setiap prubahan yg terjadi mulai dari dilahirkannya tumbuh rambut kuku gigi dan seyerusnya sampai meninggal dunia.
 
ITU SEMUA ADALAH ATAS KEHENDAK ALLOH SUBHANAHU WATAAL.Begiyu juga segala perubahan yg ada di alam sekitarnya . Bumi dan langit siang dan malam . Nusim kemarau musim hujan. Musim dingin misim panas .ITU SEMUA DARI PERATURAN DAN KETETAPAN ALLOH SUBHANHU WATÀALA. agar supaya kita mensyukuri segala kenikmatan dan tafakkur segala kejadian yg ada
MAKA yaqinlah kpd ALLOH SUBHANAHU WATAALA yg mampu mengadakan dan meniadakan segala sesuatunya. Dari tidak ada menuju ada dan dari mati menuju hidup kembali .Maka sepantasnya kita banyak berfikir atas Segala anugrah kenikmatan ALLOH SUBHANAHU WATAALA AGAR SUPAYA IMAN KITA MENJADI LEBIH MANTAB LEBIH YAQIN ATAS SUMUA QODO' DAN QODATNYA ALLOH.Ini yang bisa saya sampaikan ada salah hilafnya tulisan dan ulasan mohin fimaafkanSEMUGA BAROKAH DAN MAMFAAT SEMUGA SELAMAD DAN IMAN KITA LEBIH BISA DIPERBAIKI AMIN
فالله الموافق الى اقوم الطارق والعفو منكم ثم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 
untuk lebih jelasnya silahkan klik link berikut: https://www.facebook.com/groups/297908517036791/permalink/533197763507864/

doc.matas.517.KAJIAN KITAB AL-HIKAM BAGIAN KE 51(BAB:BERSANDARLAH KEPADA SIFAT-SIFAT TUHAN DAN BUKTIKAN KEHAMBAANMU)





KAJIAN KITAB AL-HIKAM BAGIAN KE 51.
BAB:BERSANDARLAH KEPADA SIFAT-SIFAT TUHAN DAN BUKTIKAN KEHAMBAANMU:
بسم الله الرحمن الرحيم

قال المصنف رحمه الله تعالی : كن بأوصاف ربوبيته متعلقاوبأوصاف عبوديتك متحققا. ١٣٦

Bersandarlah selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan Allah, dan perhatikan sungguh-sungguh sifat-sifat kehambaanmu sendiri.136.Ingatlah selalu sifat-sifat ke Tuhanan Allah, yaitu : kaya, kuasa, mengetahui mulya dan kuat dll.sedang sifat-sifat kehambaanmu ialah : Miskin, lemah, bodoh, hina dan tidak berdaya dll.karena mengingati selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan, maka kita harus bersandar diri kepadaNya untuk mendapatkan apa hajat kebutuhan kita itu. tidak ada lain jalan melainkan bersandar kepada Tuhan untuk mencapai semua hajat kebutuhan itu.

قال المصنف رحمه الله تعالی: منعك أن تدعی ماليس لك مماللمخلوقين أفيبيح لك أن تدعی وصفه وهو رب العالمين. ١٣٧

Allah melarang engkau mengakui apa -apa yg bukan hakmu dari hak - hak lain orang. Apakah mungkin akan membolehkan kepadamu mengakui sifat -sifat Allah padahal Ia Tuhan yg memelihara, mengatur dan menjamin seisi alam. 137

Ibnu Abbas ra.berkata : Rasulullah saw. telah bersabda: Allah telah bersabda : Kesombongan itu pakaianKu (selendangKu) dan kebesaran itu sebagai sarungKu, maka siapa akan bersaingan dengan Aku dalam salah satu sifat itu, Aku lemparkan mereka kedalam neraka.Memang sebaik - baiknya hamba ialah yg mengakui dan menyadari sifat -sifat hamba, dan sejahat - jahat hamba ialah yg tidak menyadari kehambaan dirinya, bahkan merasa seolah - olah memiliki kekuatan/kekuasaan, kemulyaan yg semata - mata hak Tuhan dan sifat - sifat utama bagi Allah ta'ala. jika seorang hamba menginginkan semua itu dapat dengan menyandarkan diri kepada Tuhan Allah yg memiliki semua itu.Rasulullah saw. telah bersabda: tiada seorang pun yg lebih cemburu dari pada Allah karena itu Allah mengharamkan segala perbuatan yg keji. Dan karena itu pula Allah takkan mengampunkan orang yg menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. karena itu pula sifat - sifat kesempurnaan Allah, tidak boleh dikurangi walau sedikitpun.

قال المصنف رحمه الله تعالی: كيف تحرق لك العوائدوأنت لم تحرق من نفسك العوائد. ١٣٨

Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yg luar biasa, padahal engkau sendiri tidak merubah dirimu dari kebiasaannya.138Kharqul awaa'id : Ialah kekeramatan, kejadian - kejadian yg luar biasa seperti berjalan di atas air, terlipatnya bumi sehingga dapat pergi ke ujung barat dan timur dalam selangkah kaki, dan makan dari seisi alam sekehendaknya, dan tidak ada doanya yg tertolak.Bagaimanakah kau akan dapat mencapai yg demikian itu, sesuatu yg menyalahi adat kebiasaan umum, padahal kau sendiri belum dapat mengekang hawa nafsu dan kehendakmu, padahal kau belum dapat melepaskan kehendakmu untuk menurut dan menyerah pada kehendak Allah. Dan kehendak Allah itu ialah yg teratur dalam ajaran tuntunan syari'at, baik yg tersebut dalam Qur'an atau hadist Rasulullah saw.Kekeramatan yg luar biasa itu tidak akan diberikan oleh Allah, kecuali oada orang yg melenyapkan kehendak sendiri, karena sangat puas kepada kehendak Allah dan pilihan-Nya.

قال المصنف رحمه الله تعالی: ماالشأن وجودالطلبأنماالشأن أن ترزق حسن الأدب. ١٣٩

Bukannya tujuan utama itu hanya sekedar minta (berdo'a), tetapi tujuan yg utama ialah jika kau mengetahui adab (tatakrama) terhadap Tuhanmu. 139

Yaitu menerima apa yg diberi oleh Tuhan tanpa merasa kurang atau kecil. sebagai kebiasaan tuan (majikan) mencukupi kebutuhan hambanya, demikian pula kewajiban seorang hamba menyerah saja kepada kebijaksanaan aturan Tuhannya.

قال المصنف رحمه الله تعالی: ماطلب لك شئ مثل الإضطرارولاأسرع بالمواهب إليك مثل الذلةوالإفتقار. ١٤٠

Tiada sesuatu yg dapat menyegarakan tercapainya permintaan hajatmu seperti keadaan terpaksa, dan tiada sesuatu yg dapat menyegerakan tibanya pemberian - pemberian kurnia Allah seperti merasa rendah diri dan sangat fakir miskin. 140

Allah berfirman:أمن يجيب المضطرإذادعاه =النمل: ٦٢ =

Siapakah yg dapat memperkenankan (menyambut) do'a orang yg terpaksa bila berdo'a minta padanya? (An-Naml 62).Orang mudh-thar (yg terpaksa) itu ialah yg merasa sudah tidak ada daya dan tidak ada kekuatan lain yg dapat menolongnya, baik dari luar atau dari dirinya sendiri, kecuali satu yaitu Allah semata-mata. orang demikianlah yg pasti segera tercapai hajat kebutuhannya, dan itulah yg bernama tauhid (meng-Esakan Allah). Hal orang ini bagaikan orang yg akan tenggelam di lautan, atau tersesat di hutan belukar yg seram sekali.

Allah berfirman:لقدنصركم الله ببدروأنتم أذلة

Sungguh Allah telah membantu kamu (memenangkan kamu) dalam perang Bedar, ketika kamu dalam keadaan hina dan rendah diri tidak berdaya.

Allah berfirman :إنماالصدقات للفقراء.......=التوبة : ٦٠ =

Sesungguhnya sedekah pemberian itu hanya untuk orang yg benar -benar fakir miskin. (Attaubah : 60).Ketika macam hal inilah yg paling cepat untuk menyampaikan atau mendatangkan kurnia pemberian Allah.Seorang yg terpaksa karena benar-benar telah merasa tidak ada lagi yg dapat menolong kepadanya, kecuali rahmat kurnia Allah, sebab ia sendiri telah begitu miskin dari segala apa yg dapat digunakan untuk memancing apa-apa dari Tuhan, maka hanya bergantung pada rahmat kurnia Tuhan semata-mata.Maka dengan demikian ia merasa rendah betul, sebab ia minta tetapi tanpa sesuatu yg diajukan untuk layaknya ia menerima pemberian itu.

Rasulullah saw. berabda :لاحول ولاقوةإلابالله كنز من كنوزالجنةTiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata, kalimat ini suatu kekayaan dari kekayaan surga.Berarti orang yg mempergunakannya, maka ia bagaikan hidup dalam surga.Sebab ia merasa puas dengan jaminan Allah dan hikmat pemberian-Nya.والله اعلم بالصوابالفاتحة

Untuk mengetahui lebih jelasnya silahkan klik link berikut: 

doc.matas.516.HUKUM ASAP BENDA NAJIS




AdyAssaid
Assalamualaikumwr ,wb udah jllas" klo tai sapi tu najis,,, pertaxanxa gmn hukumx jika adaasap dari pembakaran tai sapi trsbut mngenahi cucian yg basah trmkasih

Jawaban:

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMSetelahkitamusyawahbersama member MATAS dan paraasatidz wal Asatidzah danDewanTahkimMatasmempunyai beberapa jawaban sebagaiberikut, Diantaranya :

 Dijawab oleh Al ustadz @JawahirulUmam 

we.alaikumsalam ma,af semua para ustad"mari kita baca ta,bir yg ada in

 ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﺝ 2 ﺹ 533 | ﺍﻟﻤﺮﺟﻊ ﺍﻷﻛﺒﺮ ﻗﺎﻝ
 ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﺃﻣﺎ ﺩﺧﺎﻥ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺇﺫﺍﺃﺣﺮﻗﺖ ﻓﻔﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ :ﺎﻤﻫﺪﺣﺃ ﺃﻧﻪ ﻧﺠﺲ ﻷﻧﻬﺎ ﺃﺟﺰﺍﺀ ﻣﺘﺤﻠﻠﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻟﺮﻣﺎﺩ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ:ﻟﻴﺲ ﺑﻨﺠﺲ ﻷﻧﻪ ﺑﺨﺎﺭ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻟﺒﺨﺎﺭ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦ .ﻑﻮﺠﻟﺍ ﺇﻫـ

megenai masalh tadi it terkait dgn mslh asapyng mana asab tsb it dihaslkn dari pembakarn benda najis atau asap benda ygtrkena najis, dlm madzhab kami terdapat dua padagan 1 , dihukumi najis krn iamerupa kan bagian dari benda najis yng dibakar. Kedua, tidak di hukumi najiskrn ia hanxalah sebuah uap benda najis, maka asap trsebt tak ubahnx bak sebuahuap yg keluar dri rongga dalm tubuh manusia sprti halnxa kentut. dan adapun pendapat yng di anggap lebih shahih dikalngn Syafi'iyyah adlh pedapt yng pertama.

Dijawab oleh Al ustadz @AchmadSultoni

Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Terdapat perbedaan pendapat diantara ulama' mengenai hukumasap yang dihasilkan dari pembakaran benda najis :

1.Pendapat ashoh dalam madzhab syafi'i menyatakan bahwa asapdari pembakaran najis itu dihukumi najis, sebab asap tersebut berasal daribenda yang najis, jadi asap tersebut adalah bagian dari najis yang sudahberubah bentuk, karena itu hukumnya sama dengan debu yang dihasilkan daripembakaran benda najis yang juga dihukumi najis.

Pendapat yang menyatakan bahwa asap dari pembakaran bendanajis dihukumi najis juga merupakan pendapat yang ashoh dalam madzhab hanbalidan pendapat yang dipilih oleh Syekh Abu Yusuf dari kalangan ulama' madzhabHanafi.

Meskipun asap dari pembakaran benda najis dihukumi najisjuga, para ulama' menyatakan bahwa jika asapnya hanya sedikit maka dima'fu(diampuni/dianggap suci) dengan beberapa ketentuan sebagai berikut :

•   Apabila benda yang terkena najis adalahbenda yang basah, semisal baju yang basah, maka dihukumi najis secara mutlak,baik sedikit atau banyak, sebab dalam keadaan seperti ini asap tersebutdihukumi sebagaimana benda najis yang nampak.

•   Menurut Imam Ibnu Hajar, meskipunasapnya sedikit, apabila asap tersebut berasal dari najis mugholladhoh, makatidak dima'fu dan hukumnya tetap najis, sedangkan menurut Imam Romli baiknajisnya najis yang bukan mugholladhoh atau najis mugholladhoh sama saja,apabila sedikit, maka najisnya dima'fu.

•   Sebagian ulama' memberikan syaratdima'funya asap najis yang sedikit itu apabila asap tersebut tidak sengajadiarahkan pada suatu benda, apabila sengaja diarahkan pada suatu benda makadihukumi najis meskipun hanya sedikit, hal ini bisa disamakan seperti jikaseseorang melihat lalat yang membawa benda najis kemudian ditangkap danditempelkan kebadan atau baju, jadi apa yang sering dilakukan dipemandiandengan sengaja mengarahkan asap pada suatu benda atau tempat itu hukumnya najisyang tidak dima'fu.

Namun menurut ulama' lainnya meskipun asap tersebut sengajadiarahkan, jika hanya sedikit maka tidak najis, masalah ini tidak bisadisamakan dengan dengan menempelkan lalat yang najis kebaju sebab dalamsaat-saat tertentu diperlukan pengasapan yang dilakukan dengan sengajamengarahkan asap (termasuk asap yang najis) pada suatu tempat atau benda,karena itu apa yang dilakukan dipemandian dengan melakukan pengasapan, apabilaasapnya hanya sedikit maka dima'fu.


2.Sebagian ulama' menyatakan bahwa asap yang dihasilkan daripembakaran benda najis itu dihukumi suci, sebab asap tersebut bukanlah bendayang najis dan bukan bagian dari benda najis, asap adalah sesuatu yangdiciptakan Alloh ketika terjadi pertemuan antara api dan benda yang najis, jaditak ada alasan untuk menyatakan bahwa asap tersebut hukumnya najis, dan asaptersebut bisa disamakan dengan kentut yang dihukumi suci oleh para ulama'.

Pendapat yang menyatakan bahwa asap dari pembakaran bendanajis dihukumi suci juga merupakan pendapat yang dibuat pijakan fatwa (muftabih) dalam madzhab Hanafi dan menurut pendapat yang dibuat pegangan (mu'tamad)dalam madzhab Maliki. Pendapat ini juga diikuti oleh sebagian ulama' madzhabHanbali. Para ulama' madzhab Hanafi memberikan alasan, bahwa asap dari pembakarannajis itu dihukumi suci untuki menghindari kesulitan menghindarinya dan karenadhorurot.

Kesimpulannya, menurut pendapat yang ashoh dalam madzhabSyafi'i asap pembakaran benda najis dihukumi najis kecuali apabila asap najistersebut hanya sedikit , sedangkan menurut sebagian ulama' asap tersebuthukumnya suci, baik sedikit atau banyak. Wallohu a'lam.  

( Dijawab oleh : Siroj Munir )


Referensi :
1. Al Bayan, Juz : 1 Hal : 428-429
2. Al Majmu', Juz : 2 Hal : 579
3. Mughnil Muhtaj & Hasyitah Asy-Syibromilsi, Juz :1 Hal : 85
4. Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1 Hal : 102
5. Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 1 Hal ; 106
6. Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 20 Hal: 240


Ibarot :

Al Bayan, Juz : 1 Hal : 428-429
وفيدخان النجاسة وجهان: أحدهما: أنه طاهر؛ لأنه ليس هو النجاسة، ولا تولد منها، وإنماهو شيء يحدثه الله عند التقاء جسم النار والعين النجسة، فلا معنى لتنجيسه.فعلىهذا: إذا علق بالثوب.. لم يمنع من الصلاة فيه. وإذا حصل على حائط تنور.. لم يمنعالخبز عليه
والثاني:أنه نجس. قال في " الفروع ": وهو الأصح؛ لأنه حادث من العين النجسة،فأشبه الرماد. قال أصحابنا: فعلى هذا: إذا علق بالثوب، فإن كان قليلا.. عفي عنه.وإن كان كثيرا.. لم يطهر إلا بالغسل

Al Majmu', Juz : 2 Hal : 579
قالالمصنف رحمه الله : وأما دخان النجاسة إذا أحرقت ففيه وجهان احدهما انه نجس لانهااجزاء متحللة من النجاسة فهو كالرماد والثانى ليس بنجس لانه بخار نجاسة فهوكالبخار الذى يخرج من الجوف
الشرح: الوجهان في نجاسة دخان النجاسة مشهوران ودليلهما مذكور في الكتاب أصحهما عندالأصحاب النجاسة

Mughnil Muhtaj & Hasyitah Asy-Syibromilsi, Juz : 1 Hal : 85
ويعفىعن قليل دخان النجاسة في الماء وغيره كما صرح به الإسنوي
...............................
[حاشية الشبراملسي]
قولهدخان النجاسة) أي حيث لم يكن وصوله للماء ونحوه بفعله وإلا نجس، ومنه البخوربالنجس أو المتنجس كما يأتي فلا يعفى عنه وإن قل؛ لأنه بفعله أخذا مما مر فيما لورأى ذبابة على نجاسة فأمسكها حتى ألصقها ببدنه أو ثوبه إلا أن يفرق بأن البخور مماتمس الحاجة إليه فيغتفر القليل منه ولا كذلك الذبابة، ومن البخور أيضا ما جرت بهالعادة من تبخير الحمامات

Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1 Hal : 102
فرع: دخان النجاسة نجس يعفى عن قليله، وبخارها كذلك إن تصاعد بواسطة نار لأنه جزء منالنجاسة تفصله النار بقوتها وإلا فطاهر وعلى هذا يحمل إطلاق من أطلق نجاسته أوطهارته
.....................................
[حاشية البجيرمي]
[فرع دخان النجاسة]
قولهدخان النجاسة) وكذا دخان المتنجس كحطب تنجس ببول قال شيخنا: وبه يعلم ما عمت بهالبلوى في الشتاء شوبري، وهذا مكرر مع قوله في أول الطهارة ومن دخان نجس إلا أنيقال أتى به توطئة لقوله وكذا بخارها إلخ. (قوله يعفى عن قليله) ما لم تكن هناكرطوبة وإلا فلا يعفى عنه لتنزيلهم الدخان منزلة العين، فلو زال الريح الكثير منالثوب ولم تكن رطوبة جازت الصلاة في ذلك الثوب، ح ل

Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 1 Hal ; 106
قوله:ومن دخان نجاسة) معطوف على قوله من شعر نجس. أي: ويعفى عن يسير - عرفا - من دخانالنجاسة، وهو المتصاعد منها بواسطة نار، ولو من بخور يوضع على نحو سرجين. ومنه ماجرت به العادة في الحمامات، فهو نجس لانه من أجزاء النجاسة تفصله النار منهالقوتها. ويعفى عن يسيره بشرط أن لا توجد رطوبة في المحل وأن لا يكون بفعله، وإلافلا يعفى مطلقا لتنزيلهم الدخان منزلة العين

Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 20 Hal : 240
دخانالنجاسة
اختلفالفقهاء في طهارة الدخان المتصاعد من النجاسة: فذهب الحنفية على المفتى به،والمالكية في المعتمد، وبعض الحنابلة، إلى أن دخان النجاسة طاهر. قال الحنفية: إنذلك على سبيل الاستحسان دفعا للحرج، وللضرورة وتعذر التحرز
وذهب الشافعية في الأصح والحنابلة في المذهب،وأبو يوسف من الحنفية إلى أن دخان النجاسة كأصلها، وظاهر كلام الرملي من الشافعيةأن قليله معفو عنه مطلقا، وعلى هذا فمن استصبح بدهن نجس، يعفى عما يصيبه من دخانالمصباح لقلته. وأما عند ابن حجر الهيتمي فيعفى عن قليله إن لم يكن من مغلظ، وإلافلا يعفى عنه قليلا كان أو كثيرا

Sumber :


=================================

DEMIKIANYANG DAPATKAMI SIMPULKAN SEBELUMDANSESUDAHNYA KAMI MOHON MAAF ATASSEGALAKEKURANGAN DANKEKHILAFANDANKESEMPURNAAN HANYA MILIK ALLAH WALLAHU A'LAM

MUSYAWWIRIN:

MemberGroup MajlisTa'lim Assalafiyah(MATAS)

PENELITI:
(1).UstadzMhisyamAbbrori
(2).UstadzAch alfaroby
(3).UstadzSultoniArobbi
(4).UstadzahNailaMazaya Maya
(5).UstadzAbu haidar
(6).UstadzAbdul GhafurMasykur
(7).UstadAtama Paya.
(8).UstadLutfijaya

EDITOR: UstadzSultoni Arobbi
Kolommuawwirin:
Link documen:
https://m.facebook.com/notes/majlis-taklim-as-salafiyah-al-gasim-matas-/docmatas516hukum-asap-benda-najis/534207080073599/

doc.matas.515.HUKUM SUAMI MENYAMAKAN PUNGGUNG ISTRI DENGAN IBU SUAMI TANPA NIAT DZIHAR.


AchAlfaroby
asslmuaikumbr wb mhn mf sblmya kpda pra gru astid asatdh dn tmen tmen smua mf munkinprtyaanku hmpir sma kyk prtyaan yg kmren tp ad yg blm sy fhmi klo ada suami blgsma istriya punggung kmu tau hidung km sma kyk punya ibuku mqsud sang suami bknsama dlm hal haramnya dijimak tp sma bentuknya sma sma bsar atau sma sma mncunghidungya misalnya apkh ucpn sprti it trmsuk mndzihar dan apkah menzihar hrusada niat untuk mndzihar mhn pnjlsna trmksh wsslamualaikum wr wb

Jawaban:

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMSetelah kitamusyawahbersama member MATAS dan paraasatidz wal Asatidzah danDewan TahkimMatasmempunyai beberapa jawaban sebagaiberikut, Diantaranya :


Di jawab oleh Al ustadz @JubirMatas 

Benar zhihar juga ada sarat dan rukunx lafatzhihar ada dua macam
1:zhiharsharih (jelas yaitu kalimat yg sdh umm di ketahui d pkai untk arti ziharseperti kamu bgiku bgaikan punggung ibuku atau kepalamu seprti puggung ibukuatau seperti tgn ibuku
2:zhiharkinayah atau kiasan yaitu klmt yg tdk umum d pakai untk zihar seprti''engkauseperti ibuku"atau engkau seperti mata ibuku"engkau seperti mtibuku"dan klmt lain yg bs di pakai untk zihar dn memuji zihar kinayah tdkterjadi kecuali dgn niat ,,,kesempurnaan hanya mlik allah...!!!

Di jawaboleh Al ustadz @AchmadSultoni 

Dzihar secara bahasa berarti punggung,sedang
menurutsyara' adalah suami menyamakan istrinya dgn wanita yg tidak dihalalkannya(mahromnya)

Misal: anti alayya kadhohri ummi ( kau bagiku seperti punggung ibuku)

Dikhusususkandgn kata "punggung" bukan perut atau lainnya karena punggung adalahtempat untuk dinaiki dan seorang istri adalah tempat naik bagi suami.

وهو لغة ماخوذ من الظهر وشرعا تسبيه الزوج غير البائن بانثى لمتكن حلاله. و الظهر ان يقول الرجل لزوجته انت على كظهر امي،
و خص الظهر دون البطن مثلا لان ظهر موضوع الركوب والزوجة مركوبالزوج

الباجورى ٢/٢٣٠_٢٣١

Di jawab oleh Al ustadz @LutfiJaya 

Zihar hukumya haram menurut ijma’ulama berdasarkan firman Allah swt.Dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 2 yang artinya, “...Dan sesungguhnyamereka telah mengucapkan kata munkar dan dusta...”. Akan tetapi, para Ulamaberbeda pendapat tentang lafaz yang diucapkanselain kata punggung, seperti badan, perut, faraj, dada, tangan, kaki, danrambut. Menurut mazhab Maliki dan Hanabilah, lafaz ini termasuk zihar,mengingat ia sama dengan anggota tubuh yang lainnya. Namun, menurut mazhabSyafi’i, lafaz ini tidak termasuk zihar apabila tujuannya hanya untukpenghargaan dan kehormatan.


Dengan ini paramusyawirin bersamadewanTahkim MATAS Menyimpulkan sebagaiberikut :

Berdasarkan uraian diatas  zhihar juga ada sarat dan rukunx lafat zhihar ada dua macam

1:zhiharsharih (jelas yaitu kalimat yg sdh umm di ketahui d pkai untk arti ziharseperti kamu bgiku bgaikan punggung ibuku atau kepalamu seprti puggung ibukuatau seperti tgn ibuku

2:zhiharkinayah atau kiasan yaitu klmt yg tdk umum d pakai untk zihar seprti''engkauseperti ibuku"atau engkau seperti mata ibuku"engkau seperti mtibuku"dan klmt lain yg bs di pakai untk zihar dn memuji zihar kinayah tdkterjadi kecuali dgn niat

=================================

DEMIKIAN YANG DAPATKAMI SIMPULKAN SEBELUMDANSESUDAHNYA KAMI MOHON MAAF ATASSEGALA KEKURANGAN DANKEKHILAFANDANKESEMPURNAAN HANYA MILIK ALLAH WALLAHU A'LAM

MUSYAWWIRIN :

Member Group MajlisTa'lim Assalafiyah(MATAS)

PENELITI :
(1).Ustadz MhisyamAbbrori
(2).Ustadz Ach alfaroby
(3).Ustadz SultoniArobbi
(4).Ustadzah NailaMazaya Maya
(5).Ustadz Abu haidar
(6).Ustadz Abdul GhafurMasykur
(7).Ustad Atama Paya.
(8).Ustad Lutfijaya

EDITOR : UstadzSultoni Arobbi
Kolommuawwirin :
Link documen:

doc.matas.514.HUKUM PASANGAN ISTRI MEMANGGIL ABI DAN UMMI.



AnaLil-Mahbuby
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saya mao nanya.
Benarkah hukumx harom seseorang yg memanggil pasanganx dgnsebutan Abi n Umi..
Saya mohon jawabanx & klobsa d sertai dgn hadisx.
Cukup sdh pertanyaan dr sya..
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jawaban:

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMSetelahkitamusyawahbersama member MATAS dan para asatidz wal Asatidzah danDewanTahkimMatasmempunyai beberapa jawaban sebagai berikut, Diantaranya :



Dijawab oleh Al ustadz @ Ochan Dhakhochan

Wa'alaikum salam warohmatullohi
wabarokatuh
DalamHasyiyah Ar-Roudhul Murbi',
dijelaskan,bahwasanya kemakruhan
memanggilsuami dengan panggilan
"abi"dan memanggil istri dengan
panggilan"ummi' hukumnya makruh,
berdasarkanhadits riwayat Abu Dawud
berikut:

ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺎﻣْﺮَﺃَﺗِﻪِ : ﻳَﺎ ﺃُﺧَﻴَّﺔُ، ﻓَﻘَﺎﻝَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : « ﺃُﺧْﺘُﻚَ ﻫِﻲَ؟ »، ﻓَﻜَﺮِﻩَ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻧَﻬَﻰﻋَﻨْﻪُ

"Bahwaseorang lelaki berkata kepada
istrinya,“Hai adik perempuan/hai
saudarikecil”, maka Rasulullah saw
bersabda,“Apakah ia saudarimu?”
Beliaumembenci hal itu dan
melarangnya."(Sunan Abu Dawud,
no.2210)
Haditsdiatas tidak dapat dijadikan
dalilkemakruhan ucapan tersebut,
karenahadits diatas adalah hadits
mursal,sebagaimana dijelaskan oleh
SyekhAli bin Muhammad bin Al-
qoththondalam kitab beliau, "Bayanul
WahmiWal-Iham Fi Kitabil Ahkam".
Dalamkitab beliau, "Shohih Bukhori",
imambukhori menyebutkan satu bab
yangmenjelaskan apabila seseorang
mengatakanpada istrinya "ini adalah
saudaraperempuanku", maka tidak
mengapa,beliau menuturkan satu
hadits;
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : "ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻟِﺴَﺎﺭَﺓَ : ﻫَﺬِﻩِ
ﺃُﺧْﺘِﻲ
"Nabishollallohu 'alaihi wasallam
bercerita,bahwa nabi ibrohim berkata
mengenaiSaroh (istrinya) : "Ini adalah
saudaraperempuanku".
Al-HafidhIbnu Hajar Al-Asqolani, salah
seorangulama ahli hadits madzhab
syafi'i,menjelaskan mengenai hadits
tersebutdalam kitab "Fathul Bari",
bahwaImam Bukhori menuturkan
haditstersebut dengan tujuan untuk
membentahpendapat yang menyatakan
kemakruhanucapan "wahai saudara
perempuanku"pada istriku, dan yang
dimaksudnabi ibrohim adalah saudara
seagama,jadi ucapan tersebut tidak
mengapa.
IbnuQudamah, salah seorang ulama'
madzhabhanbali dalam kitab beliau,
"Al-Mughni"menjelaskan :

1.Apabila seseorang berkata pada
istrinya,"engkau bagiku, bagaikan
ibukusendiri", dan diniati dhihar,
makajatuhlah hukum dhihar baginya
menurutpendapat mayoritas ulama',
yaituAbu Hanifah, dua murid beliau,
ImamSyafi'i dan imam ishaq.

2.Apabila ia mengucapkan ucapan
tersebutdengan niat memuliakan, atau
menyamakanistrinya dengan ibunya
dalamsifat yang dimilikinya, maka
tidakdihukumi dhihar.
3.Apabila ucapannya dimutlakkan,
denganarti ucapan tersebut tidak
diniatkanapa-apa, menurut Syekh Abu
Bakar,dihukumi dhihar, dan ini juga
merupakanpendapat Imam Malik dan
Muhammadbin Al-Hasan, sedangkan
menurutpendapat Abu Hanifah dan
ImamSyafi'i, kata-kata ini tidak
menjadikanhukum dhihar jatuh, sebab
kata-katatersebut, lebih sering
digunakanuntuk memuliakan dari pada
digunakanuntuk dhihar.

Kesimpulannya,menurut madzhab
Syafi'i,suami memanggil istrinya
denganpanggilan-panggilan bagi
kerabatnya,seperti "ukhti' atau "ummi"
tidakdimakruhkan, dan tidak jatuh
dhihar,selama tidak diniatkan dhihar,
apabilaucapan tersebut dimutlakkan
ataudiniatkan untuk memuliakan,
makatidak dihukumi dhihar. Wallohu
a'lam.

( Dijawab oleh : Mazz Rofii dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Hasyiyah Ar-Roudhul Murbi', Juz : 7 Hal : 8
2. Bayanul Wahmi Wal-Iham Fi Kitabil Ahkam,juz : 5 Hal : 293
3. Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 9 Hal : 387-389
4. Al-Mugni Li Ibnu Qudamah, Juz : 8 Hal: 7

 Ibarot :
Hasyiyah Ar-Roudhul Murbi', Juz : 7 Hal : 8

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻧﺪﺍﺀ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﺍﻵﺧﺮ، ﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﺺ ﺑﺬﻱ ﺭﺣﻢ ﻣﺤﺮﻡ،
ﻛﺄﺑﻲ ﻭﺃﻣﻲ .........................................
ﻟﺨﺒﺮ : ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻗﺎﻝ ﻻﻣﺮﺃﺗﻪ ﻳﺎ ﺃﺧﺘﻲ، ﻓﻘﺎﻝ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ - « ﺃﺧﺘﻚ ﻫﻲ؟» ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ، ﻓﻜﺮﻩ ﺫﻟﻚ، ﻭﻧﻬﻰ ﻋﻨﻪ،
ﻭﻷﻧﻪ ﻟﻔﻆ ﻳﺸﺒﻪ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ، ﻭﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﺑﻪ، ﻭﻻ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻪ ﺣﻜﻢ
ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ، ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺼﺮﻳﺢ ﻓﻴﻪ، ﻭﻻ ﻧﻮﺍﻩ ﻓﻼ ﻳﺜﺒﺖ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ،
ﻭﺟﺎﺀ ﺃﻥ ﺍﻟﺨﻠﻴﻞ ﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻬﺎ ﺃﺧﺘﻲ، ﻭﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﻇﻬﺎﺭﺍ

Bayanul Wahmi Wal-Iham Fi Kitabil
Ahkam, juz : 5 Hal : 293

ﻭﺫﻛﺮ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺗﻤﻴﻤﺔ ﺍﻟﻬﺠﻴﻤﻲ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻗﺎﻝ
ﻻ [ﻣﺮﺃﺗﻪ : ﻳﺎ ﺃﺧﻴﺔ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ
:- " ﺃﺧﺘﻚ ﻫﻲ؟ ! [" ﻓﻜﺮﻩ ﺫﻟﻚ ﻭﻧﻬﻰ ﻋﻨﻪ . ﺛﻢﻗﺎﻝ : ﻫﺬﺍ
ﻣﻨﻘﻄﻊ ﺍﻹﺳﻨﺎﺩ . ﻛﺬﺍ ﻗﺎﻝ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻹﺭﺳﺎﻝ، ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻟﻪﺃﻥ
ﻳﺬﻛﺮ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﻳﻪ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ ﺩﺍﻭﺩ ﻳﺮﻭﻱ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﻦﻃﺮﻳﻖ
ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ، ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ، ﻭﺧﺎﻟﺪ ﺍﻟﻄﺤﺎﻥ، ﻛﻠﻬﻢﻋﻦ
ﺧﺎﻟﺪ ﺍﻟﺤﺬﺍﺀ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺗﻤﻴﻤﺔ . ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻭﺭﺩ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ .ﻭﺭﻭﺍﻩ
ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺑﻦ ﺣﺮﺏ ﻋﻦ ﺧﺎﻟﺪ ﺍﻟﺤﺬﺍﺀ، ﻋﻦ
ﺃﺑﻲ ﺗﻤﻴﻤﺔ، ﻋﻦ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﻗﻮﻣﻪ، ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺳﻤﻊ ﺭﺟﻼ ﻳﻘﻮﻝ ﻻﻣﺮﺃﺗﻪ : ﻳﺎ ﺃﺧﻴﺔ، ﻓﻨﻬﺎﻩ .ﻓﺘﺮﻙ
ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ ﻫﺬﺍ ﻭﻟﻢ ﻳﺴﻘﻪ . ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺣﺎﻓﻆ، ﻭﻛﻮﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻢ
ﻳﺴﻢ ﻻ ﻳﻀﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﺭﺃﻳﻴﻪ، ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﺍﻵﺧﺮ ﻟﻪ ﻳﺲﻣﻴﻪ
ﻡﺭﺳﻼ، ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﺫﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻋﻠﻤﻪ

Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 9 Hal :
387-389

ﺑﺎﺏ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻝ ﻻﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻜﺮﻩ : ﻫﺬﻩ ﺃﺧﺘﻲ، ﻓﻼ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻪ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻗﺎﻝ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻟﺴﺎﺭﺓ : ﻫﺬﻩ
ﺃﺧﺘﻲ، ﻭﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ
................................................
ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺎﺏ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻝ ﻻﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻜﺮﻩ ﻫﺬﻩ ﺃﺧﺘﻲ ﻓﻼ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻪ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻟﺴﺎﺭﺓ ﻫﺬﻩﺃﺧﺘﻲ
ﻭﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺑﻦ ﺑﻄﺎﻝ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺬﻟﻚ ﺭﺩ ﻣﻦ ﻛﺮﻩ ﺃﻥﻳﻘﻮﻝ
ﻻﻣﺮﺃﺗﻪ ﻳﺎ ﺃﺧﺘﻲ ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻯ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺃﺑﻲ ﺗﻤﻴﻤﺔ
ﺍﻟﻬﺠﻴﻤﻲ ﻣﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﻞ ﻭﻫﻮ ﻳﻘﻮﻝ
ﻻﻣﺮﺃﺗﻪ ﻳﺎ ﺁﺧﻴﺔ ﻓﺰﺟﺮﻩ ﻗﺎﻝ ﺑﻦ ﺑﻄﺎﻝ ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ
ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻳﺼﻴﺮ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﻈﺎﻫﺮﺍ ﺇﺫﺍ ﻗﺼﺪ ﺫﻟﻚ ﻓﺄﺭﺷﺪﻩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻟﻤﺸﻜﻞ ﻗﺎﻝ ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻴﻦﻫﺬﺍ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺑﻴﻦ ﻗﺼﺔ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻣﻌﺎﺭﺿﺔ ﻷﻥ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺇﻧﻤﺎ ﺃﺭﺍﺩﺑﻬﺎ
ﺃﺧﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻤﻦ ﻗﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﻭﻧﻮﻯ ﺃﺧﻮﺓ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﻀﺮﻩ ﻗﻠﺖ
ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺗﻤﻴﻤﺔ ﻣﺮﺳﻞ ﻭﻗﺪﺍﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻣﻦ ﻃﺮﻕ ﻣﺮﺳﻠﺔ
ﻭﻓﻲ ﺑﻌﻀﻬﺎ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺗﻤﻴﻤﺔ ﻋﻦ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﻗﻮﻣﻪ ﺃﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺘﺼﻞ ﻭﺫﻛﺮ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻗﺒﻠﻪ ﺣﺪﻳﺚ
ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻓﻲ ﻗﺼﺔ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻭﺳﺎﺭﺓ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻗﺪ
ﻗﻴﺪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﻜﻮﻥ ﻗﺎﺋﻞ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﻜﺮﻫﺎ ﻟﻢ ﻳﻀﺮﻩ ﻭﺗﻌﻘﺒﻪ
ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺸﺮﺍﺡ ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﻗﺼﺔ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺇﻛﺮﺍﻩ ﻭﻫﻮ ﻛﺬﻟﻚ
ﻟﻜﻦ ﻻ ﺗﻌﻘﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻷﻧﻪ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺬﻛﺮ ﻗﺼﺔ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ
ﺍﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻹﻛﺮﺍﻩ ﻻ ﻳﻀﺮﻩ ﻗﻴﺎﺳﺎ
ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﻗﺼﺔ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻷﻧﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺃﻥ ﻳﻐﻠﺒﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﺭﺓ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺷﺄﻧﻬﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻘﺮﺑﻮﺍﺍﻟﺨﻠﻴﺔ
ﺇﻻ ﺑﺨﻄﺒﺔ ﻭﺭﺿﺎ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻤﺘﺰﻭﺟﺔ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﻐﺘﺼﺒﻮﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺯﻭﺟﻬﺎ
ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺒﻮﺍ ﺫﻟﻚ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﺗﻘﺮﻳﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻨﺎﻗﺐ ﻓﻠﺨﻮﻑ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﺭﺓ ﻗﺎﻝ ﺇﻧﻬﺎ ﺃﺧﺘﻪ ﻭﺗﺄﻭﻝﺃﺧﻮﺓ
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ﺗﻨﺒﻴﻪ ﺃﻭﺭﺩ ﺍﻟﻨﺴﻔﻲ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﺟﻤﻴﻊﻣﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﺘﺮﺟﻤﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﻋﻜﺲ ﺫﻟﻚ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺘﺨﺮﺝ ﻭﺍﻟﻠﻪ
ﺃﻋﻠﻢ

Al-Mughni Li Ibnu Qudamah, Juz : 8 Hal : 7

ﻓﺼﻞ : ﻭﺇﻥ ﻗﺎﻝ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﺄﻣﻲ . ﺃﻭ : ﻣﺜﻞ ﺃﻣﻲ . ﻭﻧﻮﻯ ﺑﻪ
ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ، ﻓﻬﻮ ﻇﻬﺎﺭ، ﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﻋﺎﻣﺔ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ؛ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ،
ﻭﺻﺎﺣﺒﺎﻩ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ، ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ . ﻭﺇﻥ ﻧﻮﻯ ﺑﻪ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔﻭﺍﻟﺘﻮﻗﻴﺮ،
ﺃﻭ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮ، ﺃﻭ ﺍﻟﺼﻔﺔ، ﻓﻠﻴﺲ ﺑﻈﻬﺎﺭ . ﻭﺍﻟﻘﻮﻝﻗﻮﻟﻪ
ﻓﻲ ﻧﻴﺘﻪ . ﻭﺇﻥ ﺃﻃﻠﻖ، ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ : ﻫﻮ ﺻﺮﻳﺢ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ.
ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻣﺎﻟﻚ، ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﻮﺳﻰ : ﻓﻴﻪ
ﺭﻭﺍﻳﺘﺎﻥ، ﺃﻇﻬﺮﻫﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻈﻬﺎﺭ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻮﻳﻪ . ﻭﻫﺬﺍ ﻗﻮﻝﺃﺑﻲ
ﺣﻨﻴﻔﺔ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ ﺃﻛﺜﺮ
ﻣﻤﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ، ﻓﻠﻢ ﻳﻨﺼﺮﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﻧﻴﺔ،ﻛﻜﻨﺎﻳﺎﺕ
ﺍﻟﻄﻼﻕ

Sumber :

Denganini paramusyawirin bersamadewanTahkim MATAS Menyimpulkan sebagai berikut :
Berdasarkanuraian diatas
Kesimpulannya, menurut madzhab
Syafi'i, suami memanggil istrinya
dengan panggilan-panggilan bagi
kerabatnya, seperti "ukhti' atau "ummi"
tidak dimakruhkan, dan tidak jatuh
dhihar, selama tidak diniatkan dhihar,
apabila ucapan tersebut dimutlakkan
atau diniatkan untuk memuliakan,
maka tidak dihukumi dhihar.

=================================

DEMIKIANYANG DAPATKAMI SIMPULKAN SEBELUMDANSESUDAHNYA KAMI MOHON MAAF ATAS SEGALAKEKURANGAN DANKEKHILAFANDANKESEMPURNAAN HANYA MILIK ALLAH WALLAHU A'LAM

MUSYAWWIRIN:

MemberGroup MajlisTa'lim Assalafiyah(MATAS)

PENELITI:
(1).UstadzMhisyamAbbrori
(2).UstadzAch alfaroby
(3).UstadzSultoniArobbi
(4).UstadzahNailaMazaya Maya
(5).UstadzAbu haidar
(6).UstadzAbdul GhafurMasykur
(7).UstadAtama Paya.
(8).UstadLutfijaya

EDITOR: UstadzSultoni Arobbi
Kolommuawwirin: